Laman

Kamis, 28 Juni 2012

Siapakah penyair?

Penyair, bukanlah makhluk aneh yang datang dari planet lain, dan bukan pula seekor burung yang pandai terbang bebas di udara. Ia pun bukan malaikat yang jasadnya dibuat dari cahaya. Penyair, tak lain dan tak bukan adalah manusia biasa keturunan adam yang berjalamd tegak di atas sepasang kakinya, berakal budi dan berbudaya. Ia bahkan seorang yang menyebut dirinya aku yang hidup diantara aku-aku yang lain di tengah-tengah masyarakat yang tak mampu dipanggil seekor atau setangkai orang.
Jika demikian, penyair adalah orang biasa saja seperti kita yang punya mutiara, tapi juga memiliki banyak kekurangan. Ini sudah kodrat. Manusia kena rusak dan kena cacad.
Sebagai manusia biasa, ia memiliki fikiran, untuk mengetahui segala sesuatu, menganalisa, mengolah, mengklasifikasi, dan menyimpulkan. Ia juga mempunyai perasaan seperti cinta kasih, rasa benci, rasa keindahan, rasa senang, terharu, puas, pesona, sedih, dongkol, dan lain-lain.
Dua faktor ini (fikiran dan perasaan) hidup dan menyatt  dalan diri penyair dan sekaligus merupakan alat yang terpenting baginya untuk mengembangkan cita-citanya dan bakatnya, untuk membudayakan dirinya, lingkungannya, bangsanya, dan negaranya. Dari sini lahirlah pemikir-pemikir besar, para filosof para bujangga dan budayawan.

Senin, 25 Juni 2012

Puisi terakhir Soe Hok Gie "Dari Tiada ke Tiada"

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah,
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza,
tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu sayangku, bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu, atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandalawangi.
Ada serdadu-serdadu amerika yang mati kena bom di danau,
ada bayi-bayi yang mati lapar di biafra,
tapi aku ingin mati di sisimu manisku, setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya, tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.
mari sini sayangku, kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak akan pernah kehilangan apa-apa.
nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah berumur tua.
berbahagialah mereka yang mati muda.
makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada, berbahagialah dalam ketiadaanmu.