Penyair, bukanlah makhluk aneh yang datang dari planet lain, dan bukan pula seekor burung yang pandai terbang bebas di udara. Ia pun bukan malaikat yang jasadnya dibuat dari cahaya. Penyair, tak lain dan tak bukan adalah manusia biasa keturunan adam yang berjalamd tegak di atas sepasang kakinya, berakal budi dan berbudaya. Ia bahkan seorang yang menyebut dirinya aku yang hidup diantara aku-aku yang lain di tengah-tengah masyarakat yang tak mampu dipanggil seekor atau setangkai orang.
Jika demikian, penyair adalah orang biasa saja seperti kita yang punya mutiara, tapi juga memiliki banyak kekurangan. Ini sudah kodrat. Manusia kena rusak dan kena cacad.
Sebagai manusia biasa, ia memiliki fikiran, untuk mengetahui segala sesuatu, menganalisa, mengolah, mengklasifikasi, dan menyimpulkan. Ia juga mempunyai perasaan seperti cinta kasih, rasa benci, rasa keindahan, rasa senang, terharu, puas, pesona, sedih, dongkol, dan lain-lain.
Dua faktor ini (fikiran dan perasaan) hidup dan menyatt dalan diri penyair dan sekaligus merupakan alat yang terpenting baginya untuk mengembangkan cita-citanya dan bakatnya, untuk membudayakan dirinya, lingkungannya, bangsanya, dan negaranya. Dari sini lahirlah pemikir-pemikir besar, para filosof para bujangga dan budayawan.
Jika demikian, penyair adalah orang biasa saja seperti kita yang punya mutiara, tapi juga memiliki banyak kekurangan. Ini sudah kodrat. Manusia kena rusak dan kena cacad.
Sebagai manusia biasa, ia memiliki fikiran, untuk mengetahui segala sesuatu, menganalisa, mengolah, mengklasifikasi, dan menyimpulkan. Ia juga mempunyai perasaan seperti cinta kasih, rasa benci, rasa keindahan, rasa senang, terharu, puas, pesona, sedih, dongkol, dan lain-lain.
Dua faktor ini (fikiran dan perasaan) hidup dan menyatt dalan diri penyair dan sekaligus merupakan alat yang terpenting baginya untuk mengembangkan cita-citanya dan bakatnya, untuk membudayakan dirinya, lingkungannya, bangsanya, dan negaranya. Dari sini lahirlah pemikir-pemikir besar, para filosof para bujangga dan budayawan.