Laman

Jumat, 04 November 2011

Mata Air dalam Telaga Sunyi

Beribu lembar cerita yang tidak pernah usai kurajut
berpuluh tinta yang kuperlukan tuk menulisnya.
berlembar-lembar kertas yang berserakan tanpa oktah

kubiarkan mata air mengalir sepanjang telaga sunyi
tak terbendung dalam aliran deras dari masa lampau
yang tak pernah ku mengerti amarah dan kesakitan,
rasa dendam dan pengharapan

penantian yang begitu panjang
semua menjadi kabur dan melelahkan
kesadaranku telah merapuhkan segalanya.

Puisi Lembah Mandalawangi

akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui


kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih,
lembah Mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri 
melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin

haripun menjadi malam

kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal
berbicara dalam bahasa yang kita tidak mengerti

seperti kabut pagi itu

aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan harapan

bersama hidup yang begitu biru